JIDAT

Awal aku mencintai dewa bukan tanpa sebab, tidak seperti kebanyakan cinta yang dibicarakan banyak pasangan “cinta tidak memiliki atau perlu alasan” jawaban biasa yang diberikan oleh pasanganmu ketika kau menanyakan kenapa dia mencintaimu. Bagaimana mungkin kau tidak mencintai pasanganmu tanpa sebab, sesederhana mungkin jawablah pertanyaan itu bukan malah meninggalkan jawaban mainstream dan terlihat kau hanya sekedar membutuhkannya.
Jika dewa menanyakan hal itu padaku, dengan mantap selalu aku berikan jawaban “jidatmu”, dia terus-terusan bertanya dilain kesempatan sampai akhirnya merasa lelah karena mendengarkan jawabanku yang selalu sama ‘jidatmu”, sampai suatu waktu dia hanya membenarkan kata jidat menjadi “kening, sayang”. Aku terbahak kala itu, dan tetap mencintai jidat dewa sampai kapanpun. Dewa memiliki banyak kelebihan untuk pria seusianya yang bisa dikatakan berumur walaupun masih kepala tiga, dia selalu dengan percaya diri mengatakan bahwa dia adalah tipe pria yang semakin tua semakin ganteng, mengikuti moto minuman anggur, semakin tua semakin dicari dan enak diminum. Aku tak habis pikir dengan pikirannya itu tapi aku memang setuju dengan pendapatnya.
Dewa aku anggap sebagai laki-laki tempatku kembali bertanya apapun tentang hal-hal sulit yang aku lalui dan sudah tidak mampu aku tangani, jika dia juga tidak tahu jawabannya maka aku akan mencari tahu di tempat lain, dan selama kami bersama ini dewa selalu mampu menjawab 80% pertanyaanku, bahkan sampai dengan pertanyaan bodohku yang membuat keningnya mengkerut dan mengucapkan kalimat “pertanyaan macam apa itu sayang”?, dan aku akan tertawa menyadari ketidakberkualitasnya pertanyaanku. Untuk alasan macam ini aku mencintai jidatnya, aku percaya jidat yang diberikan Tuhan kepada dewa dari dia lahir merupakan jidat yang dimiliki kebanyakan orang pintar dan cerdas, apa kau bisa membayangkannya? Lebar, tinggi, dan terindikasi jika dia tua akan semakin melebar ke belakang karena banyaknya hal yang akan dia masukan kedalam pikirannya.
Aku mencintai jidat dewa yang membuat dirinya terkesan pintar kala itu, dan memang dia sesuai dengan harapanku, ketika aku menatap jidatnya dan sesuai dengan apa yang aku mau, kemudian aku beralih ke wajahnya, dan yaaaa! Dia istimewa untukku. Aku mencari pria berjidat seperti itu bukan tanpa sebab, karena aku selalu merasa bodoh dan merasa ingin terus bertanya, dan aku sudah lelah membaca buku, hanya dewa yang bisa menyelamatkan aku, dan aku memilikinya, orang yang selalu bisa menjadi tempatku bertanya tentang apapun yang ingin aku ketahui. Begitu pula dengan dewa, walaupun dia tidak banyak bertanya tentang banyak hal kepadaku karena dia memang telah memiliki jawabannya sendiri, namun dia tetap menganggapku ada, bukan sebagai perempuan yang bisa selalu ditanya-tanya selain ‘apakah kau sudah makan, dimana”? namun sebagai tempat kembali ketika dia sudah merasa sangat pintar dan banyak melakukan kecerdasan di luar pikiranku selama beberapa waktu. Anggap saja, aku tempatnya kembali mengosongkan pikiran untuk mengisinya kembali dengan banyak hal baru, dengan apa? Pelukan, dan bercerita.
Apa kau tahu ketika kau bergantung semacam ini kepada pasanganmu, membuat dirinya sangat berharga untuk dirimu, dan dia selalu merasa harus ada di sisimu? Kau bisa saja mandiri, tapi manusia mempunya sifat berinteraksi dengan manusia lain, dan membutuhkan pertolongan orang lain. Manusia dalam hidup memiiki kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh dirinya sendiri, dan kebutuhan tersebut seringkali ada agar manusia dapat hidup dengan normal. Semakin banyak manfaat yang diperoleh dari proses interaksi tersebut, maka akan semakin kuat dan menguntungkan relasi diantaranya. Begitulah aku dengan dewa.

Pernikahan Aryo

Ternyata di umurku saat ini, aku masih mampu berjatuh cinta, tidak tua memang dan masih layak untuk mencintai, lagi. Tapi ketika kulihat satu anakku yang sedang dipeluk oleh ibunya yang tak lain adalah istriku, aku menahan perasaanku.

“Umurmu masih 24tahun Aryo, kamu yakin akan menikah di usia muda seperti ini, hanya karena kau tak ingin terpisah oleh yayuk?” Tanya ibuku 3 tahun silam ketika aku memintanya untuk datang bersamaku ke rumah yayuk dan meminangnya.
“Aku yakin bu, yayuk pun yakin. Lalu apa lagi yang ditunggu?”.
Ibu hanya menghela napas dengan mengkernyitkan dahi. Bapak sudah tak mau tahu dengan keputusan anak lelakinya ini.

Aku tak pernah tahu, jika menikah itu harus memiliki banyak persiapan seperti pekerjaan tetap, gaji yang stabil, istri yang siap secara lahir dan batin juga memiliki ketahanan emosional menyatukan jiwa kami yang masih sama-sama muda, dan satu lagi siapkah berikrar seumur hidup. Logikanya seperti ini jika aku memiliki waktu hidup rata-rata umur manusia 60 tahun, di umur 25 tahun aku menikah, maka di sisa hidupku itu, aku harus mampu bersama dengan wanita ini, menahan semua godaan dan menerjang badai khas rumah tangga. Luar bisa keputusanku kala itu.

Sore ini, jiwa muda yang sebagian aku relakan bergejolak. Entah siapa perempuan itu yang diam-diam aku pandangi, dan diapun secara jelas memberikan senyumnya, menyombongkan deretan giginya yg rapi dan putih dan matanya yang besar seketika sedikit menyipit. Jatuh cinta lagi bagi para suami dan ayah muda mungkin salah satunya karena jiwa yang masih muda, gaya yang masih fresh, di tambah istri dan anak yang berdomisili jauh. Ada lagi? Atau terburu-burunya keputusan 24 tahunku itu. Padahal, aku tak pernah mau menatap mata wanita lain saat bicara agar aku mampu menjaga kesetiaanku. Tapi dengan wanita bergigi rapi itu aku tak mampu.

Ini bukan kesalahan istriku yang jauh, atau keputusanku, ini salahku yang telah gagal tak memandang wanita satu itu.

———————————

Aryo jaksa, laki-laki yang aku pikir masih hidup dengan kebebasan ternyata terikat cincin di jari manisnya dan pelukan malaikat kecil lucu yang ia sebut “anak pertama”.
Aku melihatnya pertama kali hanya karena dia gagal memperhatikanku diam-diam di suatu acara amal, kemudian aku lemparkan senyum sebagai balasan kebodohannya, dan sampai sekarang aku masih sering memberinya senyum dan ia tak pernah menolak.

Jika aku punya waktu banyak dan mampu berdua saja dengan Aryo tanpa harus hanya bertemu dia acara amal bulanan ini, akan kukatakan satu hal padanya, apakah menyenangkan menjadi suami dan ayah? Apa tidak pernahkah terlintas di waktu lalu bahwa mungkin saja saat ini akan datang, saat kau lebih mendapatkan ketepatan perasaan?.
Ah tidak, aku tidak akan mengatakannya, dan aku yakin dia tidak akan meninggalkan istri dan anaknya.

—————————————–
“Yo, rencanamu melamar yayuk jadi?” Tanya ibu di depan pintu kamarku membuatku tersentak dan bangun, buku yang menutupi wajahku pun ikut jatuh. Aku diam.
“Yo,?”
“Mmm, gimana kalau aryo pergi memenuhi beasiswa lanjutan saja dulu bu”
“Yakin?” Tanya ibu dengan nada menahan rasa aneh.
“Yakin.”
Ibu meninggalkanku dengan tersenyum. “Dasar anak muda” sahut ibu dengan menggeleng-gelengkan pelan kepalanya.

Ini tentang keputusan penting yang membutuhkan proses berpikir panjang, hingga Annisa muncul di mimpiku, tersenyum dengan deretan gigi yang rapi, matanya yang besar seketika sedikit menyipit dan ujung kerudungnya sedikit melambai tertiup angin meluruhkan emosi panjang yang tertahan akan jiwa yang harus dipaksakan mengerti satu sama lain, menjaga kesetiaan, mencari uang dengan giat, melupakan sejenak beasiswa pendidikan yang menjadi mimpiku.

Ah, begitulah hidup. hela napasku panjang dan kembali tidur.

MLG190214